December 30, 2016

Candi Sanggrahan Tulungagung dan Kisah Sejarahnya

bagian depan bangunan induk candi Sanggrahan Tulungagung bsepetah pemugaran [poto Ace Sumanta 21/12/2016] thumbnail 1 summary


bagian depan bangunan induk candi Sanggrahan Tulungagung bsepetah pemugaran [poto Ace Sumanta 21/12/2016]

 
Ketika tulisan ini diunggah, candi Sanggrahan Tulungagung sedang dalam proses pemugaran. Bangunan induk candi telah selesai dipugar. Sementara yang belum selesai pemugaran adalah bangunan dinding batu bata yang mengelilingi bangunan candi induk.


arca dhani Boddha di candi Sanggrahan jaman Belanda sumber poto: perpustakaan universitas Leiden
 
bangunan induk candi Sanggrahan Tulungagung
bagian depan [barat] candi Sanggrahan sebelum pemugaran


Candi Sanggrahan terletak di dusun Sanggrahan, desa Sanggrahan, kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Candi berbahan batu andesit ini dikenal pula sebagai candi Cungkup.  Merupakan candi terbesar yang ditemukan di Tulungagung. Sejak diketemukan, bentuk bangunan utama candi Sanggrahan masih cukup baik, hanya pada bagian atas sudah grompal.

Candi ini menghadap arah barat. Tidak memiliki hiasan relief pada dinding tubuh candi. Namun pada dinding candi bagian bawah atau kaki candi terdapat hiasan relief aneka hewan seperti singa dan serigala. Relief relief itu berada dalam kotak kotak persegi panjang.

Yang sangat unik dan bikin heran banyak kalangan, tiap relief berdiri sendiri atau terpisah dengan relief lainnya sehingga sangat sulit mencari atau menjalin alur cerita dari tiap relief tersebut.

Tidak jelas diketahui, apakah relief relief hewan di Candi Sanggrahan memuat suatu cerita sebagaimana relief relief Pancatantra ataukah sekadar ornamen atau hiasan candi tanpa cerita.

Pada kenyataannya, selama ini, belum ada Arkeolog atau Sejarawan yang mampu menerjemahkan atau mengidentifikasi secara jitu keberadaan relief relief hewan di Candi Sanggrahan Tulungagung.

Menurut Siwi Sang, aneka relief hewan seperti singa di Candi Sanggrahan Tulungagung mengingatkan pada figur figur utama tokoh hewan dalam naskah TANTRI KAMANDAKA.

Tantri Kamandaka merupakan satu naskah berbahasa Jawa kuna yang memuat kisah utama dunia satwa atau fabel yaitu kisah pertarungan seekor lembu betina bernama NANDAKA dan seekor singa yang menjadi raja Margasatwa bernama Sri CANDAPINGGALA. Singa Candapinggala memiliki patih, seekor srigala bernama SAMBADA.

Relief di candi Sanggrahan bukan Harimau atau Macan, tetapi SINGA. Harimau jelas beda dengan Singa.

Hewan singa tidak hidup di tanah Jawa. Hewan singa hanya muncul dalam berbagai naskah cerita Jawa kuna.

Salah satu naskah yang menampilkan figur Singa adalah Tantri Kamandaka.

Menjadi sangat menarik ketika Candi Sanggrahan Tulungagung memiliki relief hewan berujud SINGA.

relief figur hewan singa di candi Sanggrahan Tulungagung

relief candi Sanggrahan

Relief di Candi Sanggrahan Tulungagung

Relief di Candi Sanggrahan Tulungagung

Relief di Candi Sanggrahan Tulungagung


Candi ini dikelilingi dinding bujur sangkar tersusun dari batu bata dan berhalaman luas. Posisi candi menghadap barat. Candi Sanggrahan dan halaman di bagian dalam dinding yang mengelilinginya memiliki kedudukan lebih tinggi sekitar dua meter dari areal tanah di luar dinding bata.

Terdapat tangga naik di tengah dinding batu bata yang berada di barat atau depan candi utama. Tangga ini memiliki sembilan anak tangga.  Tangga naik ini tidak segaris lurus dengan kedudukan tangga candi yang sudah grompal. Tinggi tangga sekitar dua meter.

Di kanan dan kiri tangga ini masih terlihat sisa bangunan yang diperkirakan berbentuk semacam gapura gerbang atau pintu gerbang.









Candi Sanggrahan Tulungagung kalau dicermati lebih jeli memang terlihat unik.

Mengapa candi Sanggrahan Tulungagung dikelilingi dinding terbuat dari batu bata bertangga naik yang cukup tinggi?

Ini tugas ahli arkeologi untuk merekonstruksi ulang bangunan Candi Sanggrahan Tulungagung.

Pada halaman candi pernah ditemukan beberapa arca Boddha, sehingga banyak sejarawan menyimpulkan situs ini bangunan peninggalan agama Boddha.



Tidak ditemukan angka tahun di sekitar areal candi Sanggrahan.

Beberapa sejarawan menduga candi Cungkup merupakan peninggalan jaman Majapahit, berdasarkan bekas bangunan di bagian pintu gerbang dan di belakang candi serta bangunan dinding areal candi yang terbuat dari batu bata.

Menjadi pertanyaan juga, apakan setiap bangunan yang tersusun dari batu bata di Jawa Timur pasti peninggalan jaman Majapahit.

Dan apakah bangunan berbahan batu andesit di Jawa Timur termasuk Tulungagung menandakan sebagai peninggalan sebelum Majapahit.

Bagaimanapun, identifikasi soal kapan persisnya pembangunan candi Sanggrahan masih belum tuntas. Selain tidak ditemukan angka tahun, keberadaan candi Sanggrahan juga tidak termuat dengan jelas dalam prasasti atau naskah seperti kakawin negarakertagama, berbeda dengan candi Boyolangu tempat pendharmaan Kertarajasapatni atau Rajapatni dyah Gayatri yang termuat dalam kakawin Negarakertagama.

Lagi lagi tugas besar para ahli arkeologi dan sejarawan untuk mengadakan penelitian lanjut soal latar belakang sejarah keberadaan candi Sanggrahan.

Karena namanya candi Sanggrahan, sebagian banyak pendapat mengatakan bahwa candi ini pernah digunakan sebagai tempat mesanggrah.

Siwi Sang dalam buku GIRINDRA : Pararaja Tumapel-Majapahit [2013] menulis, kedudukan candi Sanggrahan, sebagaimana namanya, merupakan tempat untuk mesanggrah rombongan istana yang mengikuti prosesi perabuan Rajapatni dyah Gayatri di candi Dadi. Rombongan Majapahit mendirikan perkemahan di areal candi Sanggrahan yang memang berhalaman luas, berpagar keliling dan terdapat saluran air. Dan ketika abu jenazah Rajapatni dyah Gayatri ditanam di Boyolangu, rombongan istana juga menggunakan candi Sanggrahan sebagai tempat mesanggrah atau berkemah karena pada waktu itu lokasi wilayah antara candi Sanggrahan dengan Boyolangu merupakan daerah rawa. Untuk menuju candi Boyolangu harus menaiki perahu. Begitu pula ketika berjiarah ke candi Boyolangu, rombongan istana mesanggrah di candi Cungkup.

candi Sanggrahan Tulungagung setelah pemugaran [poto Ace Sumanta Desember 2016]
 
bagian depan bangunan induk candi Sanggrahan Tulungagung setelah pemugaran [poto Ace Sumanta 12/2016]



###########